Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)[1]

Setiap Amal Tergantung Niatnya
Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.

Fungsi Niat
Niat memiliki 2 fungsi:
1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.

Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:

1. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqoha’.

2. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, dengan perincian sebagai berikut:

a. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.

b. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
- Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
- Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.

c. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.

Beribadah dengan Tujuan Dunia
Pada dasarnya amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia disamping berniat untuk tujuan akhirat, dengan syarat apabila syariát menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut. Amal yang tidak tercampur niat untuk mendapatkan dunia memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi.

Hijrah
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Makna Hijrah:
1. Meninggalkan syirik menuju negeri tauhid.
2. Meninggalkan bidáh menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan maksiat menuju ibadah

Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh- HadistWeb

Dzikir adalah makanan bagi ruhani. Jika jasmani tidak di beri makan maka tubuh akan lemas, penyakit akan muncul, tidak bisa bekerja dan bahkan akan bisa berakibat pada kematian. Begitu juga dengan ruhani. Allah menciptakan manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, jika ruhani butuh makanan begitu juga dengan ruhani. Lalu apa makanan ruhani ? Tidak lain adalah dzikir.

 

Saat ini banyak sekali aliran thariqat yang menganjurkan pengikutnya untuk mengamalkan dzikir yang sebenarnya dzikir tersebut tidak sesuai dengan islam bahkan mengarah pada kemusyrikan.

Thariqat Al Mahmudiyyah merupakan thariqat yang membawa risalah Rasulullah SAW, mengamalkan dzikir yang telah di ajarkan oleh Rasulullah dan juga memberikan bimbingan kepada pengikutnya untuk mencapai titik ma’rifat sesuai dengan kondisi dan kemampuan ruhaninya.

 

Thariqat Al Mahmudiyyah memberikan layanan konsultasi dzikir bagi umat islam yang ingin memperbaiki kondisi ruhani dan meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.

 

Bagi yang berminat bisa mengirim email ke :

rososejati@gmail.com

sms ke : 03170830920 ; 03170017207

Membedakan bisikan Allah dan bisikan syetan.

Adanya aliran – aliran sesat di dunia ini tidak terlepas dari munculnya bisikan. Lia Aminudin mendapatkan bisikan dari jibril sehingga mendirikan agama baru yang bernama salamullah. Dia menyebut dirinya bunda maria dan anaknya sebagai yesus kristus. Dia teramat yakin dengan kondisi ruhaninya sehingga berani mengajak manusia untuk beriman kepada dirinya dan menjadi pengikutnya. Ahmad moshaddeq mengklaim dirinya adalah seorang nabi setelah mendapatkan wahyu yang berasal dari tuhannya. Banyak sekali kasus penyesatan agama yang di mulai dari sebuah bisikan. Bisikan yang di klaim sebagai bisikan tuhan atau malaikat. (lagi…)

Thariqat bagi sebagian kalangan di anggap sebagai jalan untuk mencapai ma’rifatullah, sedangkan sebagian yang lain merupakan jalan sesat yang tidak sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW.

Ada beberapa alas an yang di kemukakan oleh para penentang thariqat di antaranya ;

1.  Tidak ada tuntunan dari Rasulullah SAW untuk berthariqat

2.  Dzikir yang di ajarkan dalam thariqat tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW misalnya dzikir huwa atau hu

3.  Terdapat ritual yang bertentangan dengan ajaran islam misalnya berdzikir sambil menari

4.  Adanya paham wahdatul wujud ( bersatunya Tuhan dengan manusia ) yang di anggap sangat mustahil dan menyesatkan.

5.  Adanya taqlid buta terhadap mursyid sehingga ada kalanya menjalankan perintah yang bertentangan dengan Sunnah

6.  Lebih mementingkan dzikir dari pada aktifitas sosial

7.  Lebih mementingkan ajaran dari mursyid dari pada mengkaji Al Qur’an dan AL Hadits.

  (lagi…)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16

Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.

Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa dengan pagi esok. (lagi…)

“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 168)

Di satu riwayat disebutkan bahwa suatu hari pembantu Abu Bakar datang dengan membawa makanan. Seketika Abu Bakar mengambil dan memakannya. Sang Pembantu berkata, “Wahai Khalifah Rasululillah, biasanya setiap kali aku datang membawa makanan, Anda selalu bertanya dari mana asal makanan yang aku bawa. Kenapa sekarang Anda tidak bertanya?” (lagi…)

Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim: “Aku ini adalah menurut dugaan hamba-Ku, dan Aku menyertaimu, di mana saja ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir atau ingat kepada-Ku di dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku, dan kalau ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya sedepa.Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, Aku akan datang dengan berlari”.

Begitulah. Sikap dari Allah Azza Wa Jalla terhadap hambanya. Hamba, yang mencintai-Nya dengan diri yang tulus. Mereka yang senantiasa berdzikir dan mengingatkan-Nya, tak akan pernah disia-siakan atas segala permohonannya. Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, Abu Bakar ra, Umar Ibn Khaththab ra, Utsman ra, Ali Ibn Tholib ra, dan para sahabat lainnya, memberi tauladan dari generasi yang sempurna dalam kehidupan. Menjadi cermin yang indah. Menjadi ibroh yang kekal. Menjadi sumber yang tak kering-kering, terutama dari generasi-generasi mendatang. Perjalanan hidup seorang hamba akan sangatlah ditentukan bagaimana kualitas dan tingkat hubungan dengan Rabbnya. Kedudukan dan posisi seorang hamba juga akan ditentukan oleh tingkat hubungan dengan Allah Azza Wa Jalla.

Wahai umat manusia! Negeri dunia ini adalah negeri yang bengkok, bukan negeri yang lurus. Dunia adalah tempat kesusahan, bukan tempat kesenangan. Barangsiapa mengetahuinya, maka ia tidak gembira dengan kelapangan yang dimilikinya, atau bersedih karena kesengsaraan yang dialaminya. Ketahuilah Allah menciptakan dunia sebagai negeri tempat ujian, dan akhirat termpat kembali”.

Dunia itu akan cepat pergi. Segera berubah. Waspadalah. Kenikmatan dunia yang sekarang ini, jangan sampai memalingkan dari mengingat-Nya. Jangan bersusah payah memakmurkan negeri dunia yang Allah telah pastikan akan hancur. Termasuk mereka yang memujanya.

Perbanyaklah mengingat dan berdzikir kepada Allah Azza Wa Jalla, karena hanya dengan cara itu, yang dapat menyelamatkan hari depan manusia. Kehidupan yang akan lebih panjang dan bersifat kekal, dibanding dengan kehidupan dunia. Kehidupan akhirat

THARIQAT AL MAHMUDIYYAH

BEGAWAN PADMANABA
“Inilah jalanku yang terpuji, masuklah……..kalian pasti akan kutunjuki”

“Thariqat ini dibangun atas dasar Kitabullah dan Sunah RasulNya yang shahih, setitik saja kamu melanggarnya, maka aku berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan dan kamu akan tersesat sejauh mata memandang.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.