Wewarah ini disampaikan oleh Panuntun kita “Ajar Dharmajati” yang berada di Sanggar Paheningan Agung Thariqat Al Mahmudiyyah.

[ SANGGAR  PAGUTAMA ]

Dawuh beliau kepada sekalian murid pria dan wanita, baik tua maupun muda:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuhu wamaghfirotuhu waridhwanuhu. Semoga keselamatan, rahmat, barakah, ampunan dan ridha Allah tercurah bagi ikhwan semua.

Saudaraku sekalian, Tuhan yang kita sembah satu. Rasul yang kita teladani juga satu. Kitab yang kita jadikan petunjuk tidak berbeda. Agama kita satu dan tujuan kita pun satu. Perbedaan warna kulit dan bahasa, suku dan budaya, bangsa dan negara, pangkat dan derajat, darah dan keturunan, tingkat dan kedudukan, kelompok dan golongan serta perbedaan pemahaman dan pemikiran, janganlah menghalangi kita dan dijadikan sebagai penghalang serta halangan  untuk melakukan kebaikan terhadap sesama. Janganlah menghambat kita dan dijadikan sebagai penghambat serta hambatan untuk membantu dan memberikan bantuan terhadap sesama. Janganlah merintangi kita dan dijadikan sebagai perintang serta rintangan untuk menjalin hubungan kasih sayang terhadap sesama. Janganlah membatasi kita dan dijadikan sebagai pembatas serta batasan untuk menolong dan memberikan pertolongan terhadap sesama. Janganlah semua itu menjadikan kita semakin bodoh dan hina serta tidak berharga dalam pandangan Allah Ta’alla.

Saudaraku sekalian, jangan sampai perbedaan ini menjadikan kita semua saling menjauhi, iri dan dengki, menggunjing dan menfitnah, berdebat dan bertengkar, marah dan dendam, menghina dan mencela,  menghujat dan mengutuk serta saling memisahkan diri dan bermusuhan. Perbuatan-perbuatan seperti itu justru akan menjauhkan diri kita dari rahmat, ampunan dan kasih sayang serta keridhaan Allah Ta’alla.

Saudaraku sekalian, janganlah perbedaan ini kita jadikan sebagai alasan untuk memusuhi dan menimbulkan permusuhan serta saling bermusuhan terhadap sesama. Janganlah kita jadikan sebagai alasan untuk beda dan menimbulkan perbedaan serta saling membeda-bedakan terhadap sesama. Janganlah kita jadikan sebagai alasan untuk memecah dan menimbulkan perpecahan serta saling berpecah-belah terhadap sesama. Janganlah kita jadikan sebagai alasan untuk memerangi dan menimbulkan peperangan serta saling berperang terhadap sesama. Apalagi kalau kita jadikan sebagai alasan untuk mengalahkan dan menghancurkan terhadap sesama. Itu adalah kebodohan diatas kebodohan yang tertanam di dalam hati kita. Karena sebodoh dan semiskin apapun, sekecil dan selemah apapun, serendah dan sekotor apapun, seburuk dan sehina apapun mereka tetap saudara kita.

Rasulallah Saw bersabda :

“Orang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Tidak boleh mengkhianatinya, tidak boleh mendustainya dan tidak boleh menjauhinya.   Setiap orang muslim terhadap muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya.”

Maka dari itu janganlah menjatuhkan perkataan dan perbuatan terhadap saudara kita,  yang justru akan mendekatkan diri kita kepada kemarahan, kebencian, kemurkaan, laknat dan adzab Allah Ta’alla.

Saudaraku sekalian, yang bodoh pandaikanlah agar maksiat dan dosa tidak menyebar kemana-mana. Yang miskin santunilah agar kerusakan dan kemunkaran tidak merajalela. Yang kecil sayangilah agar damai dalam kasih-Nya. Yang tua hormatilah agar tidak terjadi murka-Nya. Yang sederajat hargailah agar tidak terjadi pertentangan dan perpecahan. Yang lemah kuatkanlah agar mampu beribadah untuk-Nya. Yang rendah angkatlah agar terhormat dihadapan-Nya. Yang hina muliakanlah agar  mampu berdiri bersama hamba-hamba-Nya. Yang salah benarkanlah agar lurus dalam meniti jalan-Nya. Yang lalai perlihatkanlah agar tahu amal yang harus dikerjakan. Yang zholim nasehatilah agar kembali ke jalan kasih-Nya. Yang lupa sadarkanlah agar kembali kepangkuan ampunan-Nya. Yang sesat tunjukilah agar menuju ke arah cahaya keridhaan-Nya. Saudaraku, marilah kita memenuhi hidup ini dengan mewujudkan harapan Allah Ta’alla.

Saudaraku sekalian, setinggi apapun pangkat dan jabatan  kita, semulia apapun keturunan dan derajat kita, sekokoh apapun kekuasaan dan kedudukan kita, sebanyak apapun harta benda kita, setinggi apapun ilmu dan pengetahuan kita, sehebat apapun kemampuan dan karya kita, itu hanyalah sarana yang diberikan Allah Ta’alla untuk meraih kebahagiaan dan kemuliaan yang berada disisi-Nya. Tidaklah diberi sarana seorang hamba, kecuali untuk menaikkan derajatnya dan menyampaikan cita-citanya. Karena tanpa diberi sarana, seorang hamba tidak akan naik derajatnya dan tidak tergapai cita-citanya.

Namun Ingatlah! serendah apapun pangkat dan jabatan kita, sehina apapun keturunan dan derajat kita, selemah apapun kekuasaan dan kedudukan kita, sedikit apapun harta benda kita, serendah apapun ilmu dan pengetahuan kita, sekecil apapun kemampuan dan karya kita, itu hanyalah ujian yang diberikan Allah Ta’alla untuk meraih kebahagiaan dan kemuliaan yang berada disisi-Nya. Tidaklah diberi ujian seorang hamba, kecuali untuk dinaikkan derajatnya dan disampaikan cita-citanya. Karena tanpa diberi ujian, seorang hamba tidak akan naik derajatnya dan tidak teraih cita-citanya.

Apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’alla bagi kita, itu adalah yang paling ringan, paling mudah dan paling baik bagi kita. Karena Allah Ta’alla tidaklah memberikan nikmat dan ujian bagi kita, kecuali itu adalah demi kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan serta kemulian hidup kita di dunia sampai di akherat. Namun kebanyakan dari kita tidak menyadari dan memahaminya.

Allah Ta’alla berfirman :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” QS. Al Baqarah : 216.

Saudaraku sekalian, marilah kita bersama-sama membuka diri untuk mengetahui dan memahami untuk apa kita hidup dalam kehidupan ini ? Apakah hanya untuk berlomba-lomba mengejar kenikmatan yang ada dalam kehidupan ini ataukah untuk suatu kepentingan lain yang kita tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ataukah memang tidak mengetahui sama sekali atau pura-pura tidak mengetahui dan tidak mau mengetahui ?

Saudaraku sekalian, kita hidup dalam kehidupan ini pasti mempunyai tujuan yang ingin diraih. Begitu pula Allah Ta’alla menghidupkan kita dalam kehidupan ini, pasti juga mempunyai tujuan. Marilah kita memandang sejenak kepada tujuan Allah Ta’alla terhadap hidup kita dalam kehidupan ini, jangan memandang tujuan hidup kita dalam kehidupan ini saja. Karena disana ada tujuan yang lebih baik, benar dan sempurna dibandingkan dengan tujuan hidup kita dalam kehidupan ini. Untuk apa Allah Ta’alla menghidupkan kita dalam kehidupan ini ?

Inilah yang harus kita ketahui sedalam-dalamnya. Karena kalau kita tidak tahu tujuan Allah Ta’alla menghidupkan kita dalam kehidupan ini, maka semua perbuatan kita tidak akan sesuai dengan tujuan hidup dalam kehidupan ini yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Saudaraku sekalian, untuk apa dan untuk siapa hidup kita ini ? Banyak di antara kita yang mulai pagi sampai bertemu pagi lagi, mencurahkan seluruh daya dan upaya yang kadang kalau ditanya : “Untuk apa dan untuk siapa anda melakukan semua ini ?” Di antara kita kadang ada yang berkata untuk kebahagiaan hidupku, sebagian yang lain akan berkata untuk keluarga dan keturunanku, sebagian lagi berkata untuk desaku, negeriku, bangsaku dan bahkan sebagian lagi ada yang bila ditanya berkata ya beginilah seharusnya hidup itu bekerja dan berkarya terus dan tidak boleh berhenti. Sebagian yang lain dengan lainnya tidak sama dalam memahami untuk apa dan untuk siapa hidupnya, sehingga memicu terjadinya perbedaan pendapat, kepentingan dan tujuan.

Saudaraku sekalian, marilah melepaskan sejenak perbedaan pendapat, kepentingan dan tujuan kita masing-masing guna memahami kembali ucapan yang setiap hari keluar dari lisan ini. Kita sering berkata : “inna sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillahi robbil ‘alamiin” Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk  Allah Tuhan sekalian alam.

Saudaraku sekalian, seandainya seluruh hidup ini kita dasari lillah, maka tidaklah terjadi pertentangan, perpecahan dan permusuhan diantara kita.

Saudaraku sekalian, marilah menjadi hamba-hamba Allah yang mampu menghidupkan dan menjadi tempat kehidupan bagi sesama. Apabila ada yang sakit akan sehat, apabila ada yang takut akan aman,  apabila ada yang kotor akan menjadi bersih, apabila ada yang susah akan senang, apabila ada yang hina akan mulia. Jadilah hamba Allah yang rahmatan lil ‘alamin.

Lihatlah matahari yang tidak membedakan dalam menebarkan cahayanya, lihatlah bulan yang tidak membedakan dalam menyinari siapa saja yang berjalan di tengah malam, lihatlah bintang yang selalu menampakkan gugusannya kepada siapa saja agar jelas antara utara dan selatan, lihatlah air hujan yang tercurah tanpa membedakan siapa yang harus mendapatkan curahannya, lihatlah angin yang selalu hadir kepada siapa saja tanpa dipanggil, lihatlah bumi yang selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berdiam diatasnya, lihatlah api yang selalu siap sedia bagi siapa saja yang membutuhkan panasnya, lihatlah pohon dengan daun, kayu dan buahnya yang selalu memberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya tanpa membedakan. Dan begitulah seharusnya menjadi hamba Allah yang rahmatan lil alamin.

Allah Ta’alla berfirman :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan.” Qs. Al Baqarah : 164.

Saudaraku sekalian, seorang mukmin tidak boleh sedikitpun didalam dirinya terlintas untuk membedakan mana yang harus ditolong, mana yang harus diberi atau mana yang harus dilindungi, namun haruslah tertanam sebuah jiwa rahmatan lil alamin bagi setiap umat-Nya. Apakah setiap kali kita mau menolong, membantu, memberi atau melindungi harus mesti bertanya dulu : “Kamu muslim atau bukan, kamu berasal dari daerah mana, kamu dari kelompok mana, kamu kasta apa ?

Tentu hanyalah seorang yang memiliki jiwa dan akal serta pemahaman tentang hidup dalam kehidupan yang rendah  sajalah yang melakukan hal seperti itu. Bagi seorang mukmin rahmatan lil alamin adalah sudah menjadi jiwa hidupnya dalam menapaki kehidupan ini.

Saudaraku sekalian, waspada dan berhati hatilah dalam mengerjakan setiap ibadah dan amaliah agar tidak terbawa oleh tipu daya syetan melalui hawa nafsu kita. Karena setiap perbuatan yang dituntun oleh syetan melalui hawa nafsu akan membawa kita kepada kerugian yang besar. Telah berlalu banyak contoh yang dapat kita petik hikmah dan pelajarannya dari perbuatan yang dituntun oleh syetan melalui hawa nafsu, apa yang menimpa mereka, baik yang terjadi pada umat masa lalu dan masa sekarang ataupun yang pernah terjadi pada diri kita sendiri, betapa akibat dari itu tidak lain hanyalah kerugian semata.

Saudaraku sekalian, syetan melalui jalan nafsu selamanya tidak akan berhenti untuk selalu menggoda, mengganggu, menghalangi, merintangi, menghambat, menipu dan menyesatkan kita ke arah jalan yang berlawanan dengan jalan Allah dan Rasul-Nya. Syetan tidak akan terima kalau kita dengan saudara sesama muslim terjadi silaturrahim yang baik, begitu pula dengan lainnya. Syetan pun selamanya tidak akan puas sebelum kita mengikuti langkah dan menapaki jalan yang ditunjukkan olehnya. Syetan akan menebarkan benih-benih kebanggaan dan kesombongan kepada setiap manusia agar terjadi perselisihan, perpecahan, permusuhan dan peperangan diantara kita umat manusia ini.

Saudaraku sekalian, banyak diantara kita yang justru menghina, membenci dan mengucilkan bahkan sampai ada yang mengusir saudara kita atau orang lain yang telah berbuat dosa, padahal mereka adalah korban dari tipu daya dan bujuk rayu syetan melalui hawa nafsunya.

Saudaraku sekalian, ada anak muda yang suka berbuat dosa. Suatu ketika dia jatuh sakit akibat perbuatannya. Sikap dan tindakan apa yang harus kita lakukan ? menjenguk, menolong atau membiarkan saja. Kalau kita menganggap sakit tersebut akibat ulahnya sendiri, tentu buat apa kita harus peduli, dia sakit dibuat sendiri. Mengapa kita harus susah-susah membantu dan menolongnya, pada akhirnya kalau sembuh dia akan kembali melakukan perbuatan  itu lagi. Namun kalau kita memandang dia sebagai korban perbuatan dosa dan kita lebih mengedepankan rahmatan lil alamin, maka kita akan berusaha untuk memberikan bantuan dan pertolongan yang dibutuhkan tanpa memandang yang diperbuatnya selama ini.

Saudaraku sekalian, marilah kita lebih dulu melihat mereka yang bergelimang dosa sebagai korban dari tipu daya dan bujuk rayu syetan melalui hawa nafsu, janganlah melihat dari sisi sebagai pelakunya terlebih dahulu.

Sedangkan hukuman yang ditetapkan bagi diri mereka yang melakukan dosa, itu buah yang harus dipetiknya. Namun janganlah mengabaikan dan membiarkan mereka yang telah menerima hukuman jatuh lagi ke lembah dosa. Kalau hal itu kita biarkan atau pura-pura menutup mata seakan tidak tahu, itu sama saja kita “syetan yang diam”.

Allah Ta’alla berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar…” Qs. At Taubah : 71.

Saudaraku sekalian, janganlah diantara kita nanti ada yang menyesal, mengapa dulu sewaktu semuanya masih sehat, kuat dan sempurna tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat. Penyesalan tidak akan mengembalikan sesuatu yang telah terlewatkan. Mumpung hari ini pintu dzikir masih dibuka untuk kita dan masih diberi oleh Allah kesempatan dan kelapangan untuk melakukan kebaikan terhadap sesama, marilah memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk meraih apa yang dijanjikan Allah kepada kita. Apabila pintu dzikir masih dibuka untuk kita, itu berarti Allah masih memberi kesempatan untuk mendapatkan semua kenikmatan, kebahagiaan dan kemulian yang ada disisi-Nya.

Saudaraku sekalian, janganlah berputus asa untuk meraih apa yang ada disisi Allah hanya karena selama ini kita terlalu banyak berbuat dosa. Atau terlalu rendah diri karena kerterbatasan dan kekurangan yang ada pada diri kita, namun ketahuilah Allah tidak memandang itu semua apabila kita mau datang kepada-Nya.

Saudaraku sekalian, Allah menunggumu untuk datang kepada-Nya. Jangan takut datang kepada-Nya. Allah akan membersihkan kekotoran yang ada pada dirimu dengan ampunan-Nya dan menyertaimu dengan rahmat serta menaungimu dengan keridhaan-Nya.

Saudaraku sekalian, yang disebut miskin disisi Allah adalah orang yang selalu merasa kurang apabila sudah diberi dan puas dengan amal yang dikumpulkannya. Pun yang disebut bodoh adalah orang yang menyia-nyiakan kelapangan dan kesempatan yang diberikan Allah kepadanya dan lebih mengutamakan keinginan hawa nafsunya. Orang hina menurut pandangan Allah adalah orang yang mengetahui ilmunya namun tidak mau menjalankan dan lebih memilih pemikiran dan pemahamannya sendiri.

Saudaraku sekalian, mengenai keagamaan diantara kita, marilah kita berpegang teguh pada satu tali kalimat Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah, sedangkan perbedaan pemahaman dan penafsiran diantara kita, marilah saling memahami segala kekurangan dan kelebihan diantara kita serta saling memaafkan semua kesalahan dan kebodohan diantara kita serta saling nasehat menasehati dalam kebenaran yang telah diturunkan kepada kita semua yaitu Dinul Islam.

Sedangkan dengan orang yang berbeda keyakinan dan agama dengan kita, hendaklah kita hormati dan hargai dengan segala perbedaan yang ada dalam setiap sisinya.

Sebagaimana Allah Ta’alla telah berfirman kepada kita semua :

“Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” Qs. Al Kafirun : 6.

Hiduplah bersama mereka penuh dengan kerukunan dan kedamaian, namun janganlah sekali-kali ikut campur atau mencampuradukkan. Dan begitulah semestinya sikap seorang muslim terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan dan agama dengannya.

Oleh karena itu marilah bersama-sama menjalankan seluruh amalan THARIQAT AL MAHMUDIYYAH dengan sebaik-baiknya guna meraih semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan, baik lahir maupun bathin yang berhubungan dengan jasmani dan rohani serta untuk mendapatkan ampunan, rahmat, keridhaan dan kasih sayang-Nya, baik dalam kehidupan dunia maupun di akherat nanti. Amiin

Wewarah ini disampaikan kepada kita semua sekalian Ikhwan Thariqat Al Mahmudiyyah agar dilaksanakan guna meraih keselamatan, kebahagiaan dan kemulian hidup dunia sampai akherat.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.